Berbagai
penelitian kembali dilakukan namun perkembangan berarti terjadi pada tahun
1824. Seorang seniman lithography Perancis, Joseph-Nicephore
Niepce (1765-1833), setelah delapan jam meng-exposed pemandangan
dari jendela kamarnya, melalui proses yang disebutnya Heliogravure (proses
kerjanya mirip lithograph) di atas pelat logam yang dilapisi
aspal, berhasil melahirkan sebuah imaji yang agak kabur. Ia melanjutkan
percobaannya hingga pada tahun 1826 inilah yang akhirnya menjadi sejarah awal
fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan itu kini disimpan di University
of Texas di Austin, AS.
Penelitian
demi penelitian terus berlanjut hingga pada tanggal 19 Agustus 1839, desainer
panggung opera yang juga pelukis, Louis-Jacques Mande’ Daguerre (1787-1851)
dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat foto yang sebenarnya.
Sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan
iodin yang disinari selama satu setengah jam cahaya langsung dengan
pemanas mercuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype.
Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan air suling.
Daguerre
sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Akan tetapi, Pemerintah Perancis
berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara
cuma-cuma. Sejak saat itu fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Pada tahun 1880-an, di Amerika,
George Eastman menempatkan rol film fleksibel di pasar. Dan pada tahun 1889 dia
memperkenalkan kamera Kodak pertama dengan slogan, “Anda menekan tombol dan
kami melakukan sisanya”. Di era ini, kamera mulai bisa digunakan fotografer
untuk mengeksplorasi media baru dari sudut pandang kreatif, mencoba untuk
menemukan potensi dan keterbatasan dan mendefinisikan fotografi sebagai bentuk
seni.
Tahun 1950, untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex, maka mulailah digunakan prisma (SLR), dan Jepang pun mulai memasuki dunia fotografi dengan produksi kamera NIKON. Tahun 1972, kamera Polaroid temuan Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.
Kemajuan
teknologi turut memacu fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar
tenda hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera
digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam
ukuran sebesar koran.
Fotografi hari ini sesuai dengan perkembangan
teknologi, juga sudah digunakan dalam berbagai profesi. Mulai dari digunakan
media cetak dan televisi untuk informasi iklan hingga beberapa bidang profesi
lain dari kedokteran hingga astronomi. Teknologi fotografi saat ini mampu
mengantarkan manusia melihat object yang terlalu kecil untuk dilihat hingga
foto tempat berbahaya yang sulit terjangkau manusia. Tetapi untuk kebanyakan
orang, fotografi adalah hobi atau dijadikan sebagai profesi.
Kini
fotografi secara luas telah diakui sebagai seni, ditampilkan di museum,
dihargai oleh kolektor, dibahas oleh para kritikus, dan dipelajari dalam kursus
sejarah seni. Tetapi pengakuan foto sebagai karya seni sempat mendapat beberapa
pertentangan. Hal ini tak terlepas dari kenyataan bahwa fotografi menggunakan
mesin. Selain itu, pertentangan terjadi
karena banyak yang berpendapat bahwa fotografi tidak membutuhkan kreativitas
atau imajinasi karena subjek fotografi adalah “siap pakai” dan tidak memerlukan
manipulasi atau kontrol oleh fotografer. Namun beberapa alasan di bawah ini
meruntuhkan pendapat itu.
Sebuah
kamera, tidak peduli berapa banyak fitur otomatis yang dimilikinya adalah benda
tak bernyawa dan tidak bisa menghasilkan karya seni sampai seseorang
menggunakannya. Seorang fotografer menciptakan gambar dengan proses seleksi,
melihat melalui jendela bidik kamera harus memutuskan apa yang akan dimasukkan
dan apa yang harus diabaikan dari tempat kejadian. Mereka memilih jarak dari mana
untuk mengambil gambar dan sudut mana yang tepat, yang tentunya paling sesuai
dengan tujuan mereka. Mereka juga sabar menunggu sampai mendapatkan cahaya yang
tepat atau mungkin mengambil keputusan sepersekian detik, tetapi hasil akhir
tetap berpegang pada rasa seorang fotografer. Mereka dapat membekukan gambar
yang bergerak atau merekamnya sebagai gambar yang kabur (blur).
Fotografer juga dapat mengubah warna dalam suatu
gambar dengan pilihan mereka. Alasan-alasan tadi yang pada akhirnya membuat
fotografi juga dianggap sebuah karya seni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar